Modul 3.1.j.8 Koneksi Antar Materi
Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran
assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam kenal
Shalahuddin, S.Pd, Calon Guru Penggerak Angkatan 11
SD Negeri 3 Bangkal Kota Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan.
Dalam uraian berikut ini saya membahas tentang Koneksi Antar Materi Modul 3.1.j.8 terkait Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran.
Dalam Tugas ini terdapat 10 pertanyaan yang akan saya coba membahasnya satu persatu.
Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan yang sangat erat dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin. Pratap Triloka, yang terdiri dari tiga semboyan utama, yaitu:
- Ing ngarso sung tuladha: Di depan memberi teladan.
- Ing madya mangun karsa: Di tengah membangun semangat.
- Tut wuri handayani: Di belakang memberi dorongan.
Semboyan-semboyan ini tidak hanya relevan dalam dunia pendidikan, tetapi juga menjadi pedoman yang sangat baik bagi seorang pemimpin dalam mengambil keputusan.
Filosofi Pratap Triloka mengajarkan kita bahwa seorang pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang tidak hanya memberikan perintah, tetapi juga menjadi teladan, motivator, dan pendukung bagi orang-orang yang dipimpinnya. Dalam konteks pengambilan keputusan, filosofi ini memberikan kerangka kerja yang komprehensif bagi pemimpin untuk mengambil keputusan yang bijaksana, adil, dan berdampak positif bagi organisasi atau kelompok yang dipimpinnya.
Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Nilai-nilai yang kita yakini secara mendalam, baik yang berasal dari keluarga, agama, budaya, atau pengalaman pribadi, memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap prinsip-prinsip yang kita gunakan dalam mengambil keputusan. Nilai-nilai ini seperti kompas moral yang memandu kita dalam memilih tindakan yang paling sesuai dengan keyakinan kita.
Berikut beberapa cara nilai-nilai pribadi mempengaruhi pengambilan keputusan:
- Membentuk Kerangka Berpikir: Nilai-nilai membentuk lensa kacamata kita dalam memandang dunia. Nilai-nilai yang kita anut akan mewarnai cara kita menginterpretasikan informasi, menganalisis situasi, dan mengevaluasi berbagai pilihan.
- Menentukan Prioritas: Nilai-nilai membantu kita menentukan apa yang paling penting dalam hidup. Ketika dihadapkan pada beberapa pilihan, kita cenderung memilih opsi yang paling selaras dengan nilai-nilai yang kita prioritaskan.
- Membentuk Standar Etika: Nilai-nilai menjadi dasar bagi kita untuk menentukan apa yang benar dan salah, baik dan buruk. Nilai-nilai etika ini akan mempengaruhi keputusan kita, terutama dalam situasi yang melibatkan dilema moral.
- Menjadi Motivasi: Nilai-nilai dapat menjadi sumber motivasi yang kuat. Ketika kita mengambil keputusan yang sejalan dengan nilai-nilai kita, kita cenderung merasa lebih puas dan bermakna.
Coaching adalah ketrampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Dengan langkah coaching TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apaila dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.
Pembimbingan yang telah dilakukan oleh pendamping praktik dan fasilitator telah membantu saya berlatih mengevaluasi keputusan yang telah saya ambil. Apakah keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid, sudah sejalan dengan nilai-nilai kebajikan universal dan apakah keputusan yang saya ambil tersebut akan dapat saya pertanggung jawabkan.
TIRTA merupakan model coaching yang dikembangkan dengan semangat merdeka belajar. Model TIRTA menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching. Hal ini penting mengingat tujuan coaching, yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka. TIRTA adalah satu model coaching yang diperkenalkan dalam Program Pendidikan Guru Penggerak saat ini. TIRTA dikembangkan dari Model GROW. GROW adalah akronim dari Goal, Reality, Options dan Will.
Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini,
Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee,
Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi.
Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.TIRTA akronim dari :
T : Tujuan
I : Identifikasi
R : Rencana aksi
TA : Tanggung jawab
Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?
Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya memiliki peran yang sangat krusial dalam pengambilan keputusan, terutama dalam menghadapi dilema etika. Aspek sosial emosional meliputi emosi, perasaan, dan bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain. Ketika seorang guru memiliki kesadaran dan kemampuan mengelola aspek ini dengan baik, maka ia akan lebih mampu:
- Mengambil Keputusan yang Objektif: Guru yang mampu mengelola emosinya akan lebih mudah berpikir jernih dan rasional dalam menghadapi situasi yang kompleks, seperti dilema etika. Mereka tidak akan terbawa oleh emosi pribadi yang dapat mengaburkan penilaian.
- Memahami Perspektif Lain: Dengan pemahaman yang baik terhadap emosi diri dan orang lain, guru dapat lebih empati terhadap situasi siswa, kolega, atau orang tua yang terlibat dalam dilema etika. Hal ini memungkinkan mereka untuk melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan mencari solusi yang win-win solution.
- Membuat Komunikasi Efektif: Guru yang memiliki kesadaran sosial emosional yang tinggi akan lebih mudah berkomunikasi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam dilema etika. Mereka dapat menyampaikan pesan dengan jelas, empati, dan persuasif, sehingga dapat membangun konsensus dan dukungan.
- Menjaga Hubungan Interpersonal: Dalam situasi dilema etika, hubungan interpersonal seringkali menjadi taruhan. Guru yang mampu mengelola emosi dan menjaga hubungan baik dengan orang lain akan lebih mudah mengatasi konflik dan menemukan solusi yang berkelanjutan.
- Menjadi Role Model: Sebagai seorang pendidik, guru menjadi panutan bagi siswa. Dengan menunjukkan kemampuan mengelola emosi dan mengambil keputusan yang etis, guru memberikan contoh yang baik bagi siswa dalam menghadapi situasi yang sulit.
Keberpihakan dan mengutamakan kepentingan murid dapat tercipta dari tangan pendidik yang mampu membuat solusi tepat dari setiap permasalahan yang terjadi. Pendidik yang mampu melihat permasalahan dari berbagai kaca mata dan pendidik yang dengan tepat mampu membedakan apakah permasalahan yang dihadapi termasuk dilema etika ataukah bujukan moral.
Seorang pendidik ketika dihadapkan dengan kasus-kasus yang fokus terhadap masalah moral dan etika, baik secara sadar atau pun tidak akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang dianutnya. Nilai-nilai yang dianutnya akan mempengaruhi dirinya dalam mengambil sebuah keputusan. Jika nilai-nilai yang dianutnya nilai-nilai positif maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan dan begitupun sebaliknya jika nilai-nilai yang dianutnya tidak sesuai dengan kaidah moral, agama dan norma maka keputusan yang diambilnya lebih cenderung hanya benar secara pribadi dan tidak sesuai harapan kebanyakan pihak.Kita tahu bahwa Nilai-nilai yang dianut oleh Guru Penggerak adalah reflektif, mandiri, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada anak didik. Nilai-nilai tersebut akan mendorong guru untuk menentukan keputusan masalah moral atau etika yang tepat sasaran, benar dan meminimalisir kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan yang dapat merugikan semua pihak khususnya peserta didik.
Pengambilan keputusan yang tepat memang memiliki dampak yang sangat signifikan dalam menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman. Baik itu dalam lingkungan sekolah, tempat kerja, atau masyarakat secara umum. Berikut adalah beberapa alasan mengapa pengambilan keputusan yang tepat begitu penting:
- Menciptakan Kejelasan dan Kepastian: Keputusan yang jelas dan tegas memberikan arah yang pasti bagi semua pihak. Hal ini mengurangi ketidakpastian dan konflik yang dapat mengganggu kenyamanan bersama.
- Meningkatkan Motivasi dan Produktivitas: Keputusan yang tepat dan adil akan meningkatkan motivasi dan semangat kerja. Karyawan atau siswa akan merasa dihargai dan lebih bersemangat untuk mencapai tujuan bersama.
- Membangun Kepercayaan: Keputusan yang konsisten dan transparan akan membangun kepercayaan antara pemimpin dan anggota kelompok. Kepercayaan ini adalah fondasi penting bagi terciptanya hubungan yang harmonis.
- Mencegah Konflik: Keputusan yang diambil dengan mempertimbangkan berbagai aspek dan melibatkan semua pihak yang berkepentingan akan meminimalkan potensi konflik.
- Mencapai Tujuan Bersama: Keputusan yang tepat akan membawa kita lebih dekat ke tujuan yang ingin dicapai. Baik itu tujuan individu, kelompok, atau organisasi.
Lantas, bagaimana cara mengambil keputusan yang tepat?
Beberapa prinsip yang dapat dijadikan pedoman dalam pengambilan keputusan adalah:
- Berbasis Data dan Fakta: Hindari keputusan yang hanya berdasarkan asumsi atau perasaan. Kumpulkan data yang relevan dan analisislah secara objektif.
- Melibatkan Semua Pihak: Libatkan semua pihak yang berkepentingan dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini akan membuat keputusan yang diambil lebih diterima dan didukung.
- Mempertimbangkan Dampak Jangka Panjang: Jangan hanya fokus pada keuntungan jangka pendek. Pertimbangkan juga dampak keputusan terhadap masa depan.
- Berorientasi pada Nilai: Pastikan keputusan yang diambil selaras dengan nilai-nilai yang dianut oleh organisasi atau kelompok.
- Fleksibel dan Adaptif: Siap untuk mengubah keputusan jika ada informasi baru atau situasi yang berubah
Pengambilan keputusan yang tepat dalam konteks pengajaran yang memerdekakan akan:
- Memungkinkan diferensiasi pembelajaran: Setiap murid memiliki potensi dan gaya belajar yang berbeda. Keputusan yang tepat akan memungkinkan guru untuk merancang pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu, sehingga setiap murid dapat berkembang secara optimal.
- Meningkatkan motivasi belajar: Ketika murid merasa bahwa pembelajaran dirancang khusus untuk mereka, motivasi belajar mereka akan meningkat. Mereka akan merasa lebih terlibat dan tertantang untuk mencapai potensi terbaiknya.
- Menumbuhkan kemandirian: Pengajaran yang memerdekakan mendorong murid untuk aktif dalam proses pembelajaran. Keputusan yang tepat dalam memberikan tugas dan proyek akan melatih murid untuk berpikir kritis, kreatif, dan mandiri.
- Membentuk karakter: Proses pengambilan keputusan dalam pembelajaran akan membantu murid mengembangkan karakter seperti tanggung jawab, disiplin, dan kemampuan memecahkan masalah.
- Menciptakan lingkungan belajar yang positif: Ketika keputusan yang diambil berfokus pada kesejahteraan murid, maka akan tercipta lingkungan belajar yang positif, inklusif, dan menyenangkan.
Memutuskan Pembelajaran yang Tepat untuk Murid yang Berbeda-beda
Untuk menentukan pembelajaran yang tepat bagi setiap murid, guru perlu:
-
Mengenal Murid:
- Asesmen awal: Melakukan berbagai bentuk asesmen untuk mengetahui pengetahuan awal, keterampilan, minat, dan gaya belajar masing-masing murid.
- Observasi: Mengamati perilaku murid dalam berbagai situasi untuk memahami karakteristik mereka.
- Komunikasi: Berinteraksi dengan murid secara individual maupun kelompok untuk mengetahui kesulitan dan harapan mereka.
-
Merancang Pembelajaran yang Bervariasi:
- Metode pembelajaran: Menggunakan berbagai metode pembelajaran yang aktif, seperti diskusi kelompok, proyek, presentasi, dan permainan.
- Media pembelajaran: Memanfaatkan beragam media pembelajaran, baik konvensional maupun digital, untuk mengakomodasi berbagai gaya belajar.
- Tingkat kesulitan: Menyajikan materi pembelajaran dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda, sehingga murid dapat memilih sesuai dengan kemampuannya.
-
Memberikan Tantangan yang Tepat:
- Zona perkembangan proksimal: Memberikan tugas yang sedikit di atas kemampuan murid saat ini, sehingga mereka terdorong untuk belajar dan berkembang.
- Fleksibilitas: Bersedia untuk menyesuaikan tingkat kesulitan tugas sesuai dengan perkembangan murid.
-
Memberikan Umpan Balik yang Konstruktif:
- Spesifik: Memberikan umpan balik yang jelas dan spesifik terkait dengan kekuatan dan kelemahan murid.
- Berorientasi pada proses: Lebih fokus pada proses pembelajaran daripada hasil akhir.
- Membangun kepercayaan diri: Memberikan pujian dan pengakuan atas usaha dan kemajuan yang telah dicapai murid.
Ketika guru sebagai pemimpin pembelajaran melakukan pengambilan keputusan yang memerdekakan dan berpihak pada murid, maka dapat dipastikan murid-muridnya akan belajar menjadi oang-orang yang merdeka, kreatif , inovatif dalam mengambil keputusan yang menentukan bagi masa depan mereka sendiri. Di masa depan mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang, penuh pertimbangan dan cermat dalam mengambil keputusan-keputusan penting bagi kehidupan dan pekerjaannya.
Keputusan yang diambil oleh seorang guru akan menjadi ibarat pisau yang disatu sisi apabila digunakan dengan baik akan membawa kesuksesan dalam kehidupan murid di masa yang akan dating. Demikian sebaliknya apabila kebutuhan tersebut tidak diambil dengan bijaksana maka bisa jadi berdampak sangat buruk bagi masa depan murid-murid. Keputusan yang berpihak kepada murid haruslah melalui pertimbangan yang sangat akurat dimana dilakukan terlebih dahulu pemetaan terhadap minat belajar, profil belajar dan kesiapan belajar murid untuk kemudian dilakukan pembelajaran berdiferensiasi yaitu melakukan diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk.
Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?Kesimplan yang didapat dari pembelajaran modul ini yang dikaitkan dengan modul-modul sebelumnya bahwa pengambilan keputusan adalah suatu kompetensi atau skill yang harus dimiiki oleh guru dan harus berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran. Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being). Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfullness) untuk menghantarkan muridnya menuju profil pelajar pancasila. Dalam perjalanannya menuju profil pelajar pancasila, ada banyak dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan panduan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu masalah agar keputusan tersebut berpihak kepada murid demi terwujudnya merdeka belajar.
Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?Konsep dilemma etika dan bujukan moral adalah sebuah konsep praktis yang aplikasinya adalah pengambilan keputusan dalam kaitannya sebagai pemimpin yang berbasis nilai nilai kebajikan. Dalam pengaplikasiannya, diperlukan identifikasi yang jeli, jelas dan mendetail dalam mengenali kedua hal ini. Identifikasi mendalam diarahkan pada 4 paradigma masalah, 3 prinsip mengatasi masalah serta 9 langkah pengujian keputusan. Hal hal diluar dugaan yang terjadi adalah, ternyata hal hal tersebut telah dilaksanakan dalam kehidupan sehari hari, hanya saja belum maksimal dan sistematis sehingga terkadang masih terdapat benturan dalam pelaksanaannya.
Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
Sebelum mempelajari modul ini, tanpa sadar kami telah menerapkan mengambil keputusan sebagai pemimpin dalam situasi dilema etika, hanya saja bedanya kami belum menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengujian keputusan.
Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Sebelum mengikuti pembelajaran modul ini, pengambilan keputusan yang saya lakukan seringkali didasarkan pada intuisi atau pengalaman pribadi. Saya cenderung terburu-buru dalam mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan faktor-faktor lain secara mendalam. Akibatnya, seringkali keputusan yang saya ambil tidak optimal dan menimbulkan masalah baru.
Namun, setelah mempelajari modul ini, saya menyadari pentingnya proses pengambilan keputusan yang sistematis dan rasional. Saya belajar untuk:
- Mengumpulkan data yang relevan: Sebelum mengambil keputusan, saya berusaha mengumpulkan informasi sebanyak mungkin yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi.
- Menganalisis informasi secara objektif: Saya belajar untuk menganalisis informasi secara kritis dan menghindari bias.
- Mempertimbangkan berbagai alternatif: Saya dilatih untuk tidak terpaku pada satu pilihan, melainkan mempertimbangkan berbagai alternatif solusi.
- Menimbang konsekuensi jangka panjang: Saya menyadari pentingnya mempertimbangkan dampak jangka panjang dari setiap keputusan yang diambil.
- Melibatkan orang lain: Saya lebih terbuka untuk meminta masukan dari orang lain sebelum mengambil keputusan.
Perubahan yang saya rasakan setelah mengikuti modul ini adalah:
- Lebih percaya diri: Saya merasa lebih percaya diri dalam mengambil keputusan karena telah memiliki kerangka berpikir yang lebih sistematis.
- Lebih efektif: Keputusan yang saya ambil menjadi lebih efektif dan efisien karena telah melalui proses analisis yang cermat.
- Lebih bijaksana: Saya lebih mampu menimbang berbagai aspek sebelum mengambil keputusan, sehingga keputusan yang saya ambil lebih bijaksana.
- Lebih terbuka terhadap masukan: Saya lebih menghargai pendapat orang lain dan tidak ragu untuk meminta bantuan jika diperlukan.
Secara keseluruhan, pembelajaran modul ini telah memberikan saya keterampilan yang sangat berharga dalam pengambilan keputusan. Saya yakin keterampilan ini akan sangat bermanfaat bagi saya dalam kehidupan pribadi maupun profesional."
Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
Mempelajari modul ini memiliki signifikansi yang sangat besar, baik bagi saya sebagai individu maupun sebagai seorang pemimpin. Berikut adalah beberapa alasannya:
Sebagai Individu
- Peningkatan kesadaran etis: Modul ini membantu saya untuk lebih peka terhadap dimensi moral dalam setiap tindakan. Saya menjadi lebih sadar akan konsekuensi dari setiap pilihan yang saya buat, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain dan lingkungan sekitar.
- Pengambilan keputusan yang lebih baik: Saya belajar untuk menganalisis situasi secara lebih mendalam, mempertimbangkan berbagai perspektif, dan memilih tindakan yang paling etis dan bijaksana.
- Perkembangan pribadi: Modul ini mendorong saya untuk terus tumbuh dan berkembang sebagai individu yang lebih baik. Saya menjadi lebih reflektif, empati, dan bertanggung jawab.
Sebagai Pemimpin
- Kepemimpinan yang berintegritas: Sebagai pemimpin, saya dituntut untuk menjadi role model bagi orang lain. Modul ini membantu saya untuk membangun kepemimpinan yang berintegritas, di mana setiap keputusan yang saya ambil didasarkan pada nilai-nilai luhur.
- Membangun kepercayaan: Dengan mengambil keputusan yang etis dan transparan, saya dapat membangun kepercayaan dari tim saya. Kepercayaan ini sangat penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang positif dan produktif.
- Pemecahan masalah yang efektif: Modul ini memberikan saya alat dan kerangka berpikir yang berguna untuk menghadapi berbagai tantangan dan dilema yang seringkali muncul dalam kepemimpinan.
- Pengembangan tim: Saya dapat menerapkan nilai-nilai kebajikan dalam membimbing dan mengembangkan anggota tim saya, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi individu yang lebih baik dan berkontribusi secara positif bagi organisasi.
Secara keseluruhan, mempelajari modul ini memberikan saya pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam konteks kepemimpinan. Dengan bekal pengetahuan ini, saya berharap dapat menjadi pemimpin yang lebih baik dan menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Demikian koneksi antar materi modul 3.1. Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran, semoga bermanfaat
0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !